Pupuk Bio Organik

0812-17171110
081-1372932
0811-315127
(031) 3818548, 3821402
nongguanbiotek.pt@gmail.com

Padi Siap PanenSejarah pertanian Indonesia intensif telah dimulai kurang lebih semenjak tahun 1969, pada saat dimulainya program Intensifikasi Masal (INMAS) untuk petani sebagai dampak revolusi hijau tingkat dunia.

Pada tahun itu petani mulai dikenalkan dengan berbagai jenis pupuk buatan (bersifat kimiawi), obat-obatan pembasmi hama, penyakit dan gulma (pestisida dan herbisida serta benih-benih yang berdaya hasil tinggi).

Pada sektor penumpukan dampak dari penggunaan pupuk anorganik atau kimiawi disertakai paket-paket lainnya yang dikenal dengan nama panca usaha tani menghasilkan peningkatan produktivitas tanaman yang cukup tinggi dibandingkan kondisi sebelumnya, hingga indonesia mencapai swasembada pangan tahun 1986 dan mendapatkan penghargaan dari organisasi pangan dunia (FAO) di PBB.

Namun peralihan dalam budaya bertani yaitu peralihan dari penggunaan pupuk organik (kandang, kompos, tanaman golongan leguminoceae) kepenggunaan pupuk anorganik (kimia) dalam jangka waktu yang relatif cukup panjang hingga saat ini telah menimbulkan dampak samping yaitu menjadikan tanah-tanah pertanian Indonesia menjadikan semakin keras sehingga menurunkan produktivitasnya.

 

 

Semakin kerasnya tanah ini bukan disebabkan oleh hilangnya tanah lapisan atas (top soil) tetapi lebih disebabkan penumpukan sisa atau residu pupuk kimia dalam tanah yang berakibat tanah sulit terurai. Hal ini disebabkan karena memang salah satu sifat bahan kimia adalah relatif lebih sulit terurai atau hancur dibandingkan dengan bahan organik. Jika tanah menjadi semakin keras maka akan mengakibatkan tanaman akan semakin sulit menyerap pupuk / unsur hara tanah. Jadi jika tanah semakin keras untuk mendapatkan hasil yang sama dengan hasil panen sebelumnya diperlukan dosis pupuk lebih tinggi. Hal ini yang menyebabkan mengapa dosis pupuk semakin lama semakin tinggi.

Di samping itu, dengan semakin kerasnya tanah, proses penyebaran perakaran dan aerasi (pernafasan) akar akan terganggu yang berakibat akar tidak dapat berfungsi optimal dan pada gilirannya akan menurunkan kemampuan produksi tanaman tersebut.

Selain masalah pengerasan tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan seperti disebut diatas, masalah lain yang perlu diperhatikan adalah adanya indikasi proses pemiskinan atau pengurangan kandungan 10 enis unsur hara, meliputi sebagian unsur hara makro yaitu, Ca, S dan Mg (3 unsur), serta unsur hara mikro yaitu, Fe, Na, Za, Cu, Mn, B dan Ce (7 unsur). Seperti diketahui bahwa dari sekian unsur hara yang ada didalam, semua dari sekian tanaman membutuhkan mutlak 13 macam unsur hara untuk keperluan proses pertumbuhan dan perkembangan yang sering dikenal dengan nama unsur hara esensial.

Unsur hara ini diperlukan dalam jumlah yang berbeda satu sama lain yang secara garis besardapat dibedakan menjadi unsur hara makro (6 Jenis) yang dibutuhkan didalam jumlah banyak (unsur hara N, P, K, Ca, S dan Mg) dan unsur hara mikro ( 7 Jenis ) yang dibutuhkan lebih sedikit (unsur hara Fe, Na, Zn, Mn, B, Cu, dan Ce). Walaupun berdeda dalam jumlah kebutuhannya namun dalam fungsi pada tanaman masing-masing unsur sama pentingnya dan tidak bisa menggantikan satu sama lainnya. Dalam hal ini masing-masing unsur hara mempunyai fungsi dan peran khusus sendiri-sendiri terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga jika terjadi kekurangan satu jenis unsur hara saja akan mengakibatkan tidak optimaln yapertumbuhan dan berkembangan tanaman. Jadi 13 macam unsur tersebut jika pada manusia ibarat menu makanan 4 sehat (karbohidrat, daging sayuran dan buah), 5 sempurna (susu), yang masing-masing mempunyai peran tersendiri.

Unsur-unsur di dalam (termasuk 13 unsur hara esensial) selalu mengalami recycling proses (proses perputran), sehingga kandungannya relatif tetap karena selalu kembali lagi ke tempat semula (berputar). Padahal kita tahu, dalam usaha budi daya tanaman, paling tidak ada sebagian unsur hara yang tidak kembali lagi ke tanah atau lahan tempat semula ditanam karenam dibawa keluar areal pertanaman dalam bentuk hasil panen, kehilangan unsur hara in semakin diperparah dengan perubahan pola pemanfaatan tanaman sebagai contoh: Jika dulu padi hanya diambil (dipanen) keluar area penanaman dalam bentuk gabah saja, sekarang masih ditambah batang padi (damen) untuk keperluan pakan ternak, begitu juga halnya dengan jagung. Dalam hal ini kehilanagan 13 unsur hara esencial dari area pertanaman semakin banyak. Sementara sebagian besar petani mengmbalikan dalam waktu hanya terbatas 3 jenis unsur hara saja yaitu, N, P dan K. Sedangkan 10 jenis unsur hara yang seharusnya dapat dikembalikan dengan cara pemberian pupuk kandang atau kompos, telah jarang dilakukan karena masyarakat beralih ke pupuk kimia.

Secara garis besarnya beberapa faktor yang turut berperan terhadap kekurangan unsur hara khususnya unsur mikro adalah:

  1. Kehilangan unsur hara yang diserap tanah dalam bentuk hasil panen dan bagian tanaman-tanaman lain.
  2. Penggunaan pupuk kimia beranalisis tinggi.
  3. Tingginya penggunaan pupuk kimia dan kurangnya pemakaian pupuk organik.
  4. Pemakaian TSP (unsur fosfat) yang terus menerus dan berlebihan akan merangsang kekurangan unsur hara mikro tertentu seperti Zn.
  5. Introduksi varietas unggul yang lebih peka terhadap kekurangan unsur hara. Dengan semakin tinggnya kesadaran akan kesehatan dan kualitas lingkungan maka terdapat kecenderungan pergeseran pola kunsumsi pada hasil pertanian yang dibudidayakan secara organik yaitu, budidaya yang menggunakan masukan kimiawi seminim mungkin sehingga aman bagi kesehatan manusia dan kualitas linggkungan. Dan menimbang hal ini penggunaan bahan-bahan yang bersifat organik baik pupuk maupun obat-obatan organik. Khususnya pupuk organik, diharapkan menggunakan Bio Organik (yang mengandung microba pengurai) secara bijaksana dapat lebih memasyarakat. Hal ini karena dapat mengatasi permalasalahan proses pengerasan area tanah-tanah pertanian serta dapat menyumbang unsur hara makro dan mikro, sehingga kandungannya cukup bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman dan aman bagi kesehatan manusia dan kualitas lingkungan hidup.

Sales & Marketing

Telp :
Martin Sutanto : 0812-17171110
Agus Suryono G: 081-1372932
Widodo Gunawan : 0811-315127

Email :
nongguanbiotek.pt@gmail.com


Pabrik Probolinggo

Pabrik :
Desa Bulang km 112,2
Probolinggo
Jawa Timur - Indonesia
(62-335) 613982

Kantor Surabaya

JI. Gading Pantai V/6-8
Surabaya 60112
Jawa Timur - Indonesia
(62-31) 3818548, 3821402
(62-31) 3812667
(62-31) 3812275, 3818594

Pengunjung Online

We have 67 guests and no members online

Login

Register

You need to enable user registration from User Manager/Options in the backend of Joomla before this module will activate.